HAK KEPEMILIKAN TANAH

Studi Komparatif antara Hukum Positif Indonesia dan Hukum Islam menurut Perspektif Syafi’iyah tentang Wewenang Pemerintah pada Tanah Terlantar

Authors

  • Rizal Muhaimin Ma'had Aly MUDI Mesjid Raya Samalanga Author

DOI:

https://doi.org/10.61433/alnadhair.v4i01.134

Keywords:

al-imam, syafi'iyyah, hak kepemilikan

Abstract

Seiring meningkatnya kebutuhan akan tanah, sering ditemukan tanah yang diterlantarkan pemiliknya. Keterlantaran tanah ini memicu persengketaan antar masyarakat serta melibatkan pemerintah dengan alasan kemaslahatan dan kesejahteraan umum. Untuk itu, pemerintah mengeluarkan kebijakan tentang hak kepemilikan dan penertiban tanah terlantar. Setiap pemilik tanah wajib mengelola dan memanfaatkan tanahnya; bila diterlantarkan, pemerintah dapat menggugat kepemilikan tersebut, menetapkannya sebagai objek penertiban tanah terlantar, dan menjadikannya tanah negara. Hal inilah yang mendorong penulis membandingkan hukum positif Indonesia dan hukum Islam terkait tanah terlantar. Penelitian ini berfokus pada perbedaan kedua hukum serta korelasi kebijakan pemerintah tentang tanah terlantar dengan kaidah tasharruf al-imām ‘ala al-ra’iyyat manūth bi al-maslahat dan respon hukum Islam terhadap kebijakan tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan, dalam hukum positif, hak atas tanah terlantar dicabut dan menjadi tanah negara. Dalam perspektif Syāfi’iyah, tanah terlantar dapat menjadi tanah negara hanya jika ada kompensasi atau tidak ada harapan pemilik atau ahli warisnya kembali; jika tidak, kepemilikan tanah tidak dapat tercabut. Kaidah tasharruf al-imām menegaskan kewajiban pemerintah memberantas kezaliman, dan wewenang pemerintah atas tanah terlantar bergantung pada legalitas menghidupkan kembali tanah tersebut. Jika tanah dapat dimiliki dengan menghidupkannya, penguasaan pemerintah dibolehkan. Namun, bila tidak dapat dihidupkan, klaim pemerintah tidak dibenarkan menurut fiqh Syāfi’iyah.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Kitab/Buku

Abdul Haq dkk, “Formulasi Nalar Fiqh, Telaah Kaidah Fiqh Konseptual”, Surabaya: Khalista

Abdullah bin Hijazi bin Ibrahim al-Syāfi’ī al-Azharī, (Hāsyiah al-Syarqāwī)

Abi Abbas Ahmad bin Muhammad bin Rif’ah, Kifāyat al-Nabīh Syarh al-Tanbīh fi Fiqh al-Islamī, Jld. XI, (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyah).

Abi Yahya Zakaria al-Ansharī, Manhaj al-Thullāb (Beirut: Dar al-Fikri).

Abi Zakaria Yahya bin Syaraf al-Nawāwī, al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab, (Libanon: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyah).

Abu al-Hasan Ali bin Muhammad bin Muhammad al-Bashrī al-Mawaridī, al-Hawī al-Kabīr fi Fiqh Mazhab al-Imām al-Syāfi’ī, (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyah).

Abu Ya’la Muhammad bin Husain bin Muhammad bin Khalaf bin al-Farā`i, al-Ahkām al-Sulthāniyah, (Beirut: Dār al-Kutub al-Ilmiyah).

Ahmad bin Hambal, Musnad al-Imām Ahmad bin Hambal, (Riyadh: Dār al-Rāyah).

Ahmad bin Muhammad al-Shāwī, Hāsyiah al-Shāwī ‘ala Tafsīr al-Jalālain, Jld. I, (Beirut: Dār al-Fikri).

Dian Aries Mujiburohman, Penegakan Hukum Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Terlantar, Cet. I, (Yogyakarta: STPN Press, Oktober 2019), h. 41.

Dr. Musa Asy’arie, “Manusia Pembentuk Kebudayaan dalam Al-Quran”, (Yogyakarta: Lembaga Studi Filsafat Islam (LESFI)).

Ibnu Qasim al-Ghazī, Fath al-Qarīb, dalam Hāsyiah al-Bājūrī, Ibrahim al-Bājūrī, Jld. II, (Semarang: al-Harāmain, tt), h. 38.

Ibrahim al-Bājūrī, Hāsyiah al-Bajuri, Jld. II, (Semarang: al-Harāmain, tt), h. 38.

Irfan Arifuddin, Ensiklopedia Antariksa dan Alam Semesta Seri 4, “Misteri Fenomena Antariksa dan Alam Semesta”, (Bandung: Puripustak).

Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran, “Alquran al-Karim dan Terjemahnya”, (Surabaya: Halim).

Muhammad al-Syarbinī, al-`Iqnā’ fi Alfādz Abī Syujā’ dalam Hāsyiah Bujairimī ‘ala al-Khathīb, Sulaiman al-Bujairimī).

Muhammad bin Ahmad al-Mahallī, Kanz al-Ghāribīn dalam Hāsyiatāni Qalyūbī wa ‘Amīrah, Ahmad bin Ahmad bin Salamah al-Qalyūbī dan Ahmad al-Barlisī (‘Amīrah), (Beirut: Dār al-Fikri.

Muhammad bin Ibrahim bin Abdullah al-Tawījarī, Mausū’ah al-Fiqhī al-Islāmī, Jld. III, (Urdun: Bait al-Afkar al-Dauliyah).

Muhammad bin Isma’il al-Bukharī, Shahīh al-Bukharī, Jld. II, (Damaskus: Dār Thūq al-Najāh).

Muhammad Mustafa al-Zuhailī, al-Qawāid al-Fiqhiyah wa Tathbīquhā fi al-Madzāhib al-Arba’ah, (Damaskus: Dār al-Fikri).

Muhammad Sa’id Ramadhan al-Būthī, Dhawābith Maslahah, (tk: Dār al-Fikri).

Muhammad Shidqi bin Ahmad bin Muhammad al-Ghāzī, Mausū’ah al-Qawāid al-Fiqhiyah, (Beirut: Mu`sisah al-Risālah).

Muhammad Yasin bin Isa al-Fadanī, “al-Fawāid al-Janiyyah”, (tk: Dar ar-Rasyad).

Muhammad Yusri Ibrahim, Fiqh al-Nawāzil li al-Aqliyat al-Musallamah Ta`shīlan wa Tathbīqan, Jld. I, (Kairo: Dār al-Yusri).

Muslim bin Hajjaj, Sahīh Muslim, dalam Syarah Sahīh Muslim, Abi Zakaria Yahya bin Syaraf al-Nawāwī, Jld. VI, (Kairo: Dār al-Ghād al-Jadīd).

Wahbah al-Zuhailī, al-Fiqh al-Islamī wa Adillatuh, Jld. VI, (Damaskus: Dar al-Fikri).

Internet:

Heru Yudi Kurniawan, “Tinjauan Yurudis Pemanfaatan Tanah Terindikasi Terlantar untuk Kegiatan Produktif Masyarakat (Meningkatkan Taraf Perekonomian) Ditinjau dari PP No. 11 Tahun 2010 tentang Pemanfaatan dan Pendayagunaan Tanah Terlantar”, (Online), (Januari, 2017), https://media.neliti.com, diakses pada 9 Januari 2023.

Sudirman Saad, “Tanah Terlantar dalam Perspektif Hukum Adat, Hukum Islam dan Yurisprudensi”, (Online), (Febuari, 1991), https://researchgate.net, diakses tanggal 9 Januari 2023.

Downloads

Published

06/26/2025

How to Cite

HAK KEPEMILIKAN TANAH : Studi Komparatif antara Hukum Positif Indonesia dan Hukum Islam menurut Perspektif Syafi’iyah tentang Wewenang Pemerintah pada Tanah Terlantar. (2025). Jurnal Al-Nadhair, 4(01), 96-127. https://doi.org/10.61433/alnadhair.v4i01.134

Similar Articles

1-10 of 65

You may also start an advanced similarity search for this article.