- Status Hukum Bioetanol Sebagai Bahan Bakar Kendaraan Dalam Perspektif Fikih Kontemporer
Pendahuluan, Metode Kajian, Hasil dan Pembahasan, Kesimpulan, Daftar Pustaka
DOI:
https://doi.org/10.61433/alnadhair.v4i02.175Keywords:
bioetanol, bahan bakar, istihalah, dharurah, fikih kontemporerAbstract
Penelitian ini mengkaji status hukum bioetanol sebagai bahan bakar kendaraan dalam perspektif fikih kontemporer. Bioetanol secara kimia identik dengan alkohol dalam khamr, namun berfungsi sebagai energi alternatif, bukan konsumsi. Penelitian menggunakan metode kualitatif normatif-yuridis melalui studi kepustakaan terhadap sumber primer (Al-Qur'an dan Hadis) dan sekunder (kitab fikih, fatwa ulama). Hasil penelitian menunjukkan mayoritas ulama kontemporer dari berbagai mazhab membolehkan penggunaan bioetanol dalam bahan bakar berdasarkan tiga argumentasi: (1) konsep istihalah (transformasi substansi) melalui denaturasi yang mengubah etanol menjadi tidak layak konsumsi; (2) prinsip dharurah dan hajah 'ammah mengingat urgensi kebutuhan energi alternatif dan krisis iklim global; (3) perbedaan 'illat dan maqashid antara etanol bahan bakar dengan khamr. Penelitian menyimpulkan bahwa bioetanol sebagai bahan bakar kendaraan adalah mubah (diperbolehkan) dengan syarat diproduksi untuk keperluan industri, telah didenaturasi, dan tidak digunakan dalam konteks ibadah langsung. Implikasi praktisnya, umat Islam tidak perlu ragu menggunakan kendaraan berbahan bakar bioetanol dalam kehidupan sehari-hari
Downloads
References
Al-Kasani, A. (1986). Badai' ash-Shanai' fi Tartib asy-Syarai'. Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.
Al-Qaradhawi, Y. (2001). Fiqh al-Aqalliyat al-Muslimah. Dar asy-Syuruq.
Al-Qaradhawi, Y. (2006). Ri‘ayat al-Bi‘ah fi Syari‘at al-Islam. Dar asy-Syuruq.
An-Nawawi, M. A. Z. Y. bin S. (n.d.). Al-Majmu‘ Syarh al-Muhadzdzab. Dar al-Fikr.
As-Suyuthi, J. (1990). Al-Asybah wa an-Nazhair. Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.
Asy-Syafi‘i, M. bin I. (1990). Al-Umm. Dar al-Ma‘rifah.
Az-Zuhaili, W. (2010). Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu. Dar al-Fikr.
BP. (2023). BP Statistical Review of World Energy: Global Energy Outlook 2023. BP plc.
BP. (2023). Global Energy Outlook 2023. BP Statistical Review of World Energy. https://www.bp.com/energy-economics
Fauzi, A. (2018). Status hukum alkohol dalam produk farmasi perspektif fikih Islam. Jurnal Syariah dan Hukum, 10(2), 145–168.
Haris, A. (2024, Oktober 23). Wawancara pribadi.
Ibnu Qudamah, M. ad-D. (1968). Al-Mughni. Maktabah al-Qahirah.
IPCC. (2023). Climate Change 2023: Synthesis Report. Intergovernmental Panel on Climate Change.
IPCC. (2023). Climate Change 2023: Synthesis Report. https://www.ipcc.ch/report/ar6/syr/
Iqbal, M. (2019). Analisis fatwa ulama Timur Tengah tentang penggunaan etanol dalam produk konsumsi. Jurnal Studi Islam, 12(3), 234–256.
Islamic Fiqh Academy. (1990). Resolution No. 52/6/6 on Alcohol in Food and Pharmaceutical Products. Organization of Islamic Cooperation.
Islamic Fiqh Academy. (n.d.). Resolutions and Recommendations. https://iifa-aifi.org/en/
Kumar, S., & Tuli, D. K. (2020). Bioethanol production: Processes and challenges. Biofuel Technologies, 15, 15–42.
Majelis Ulama Indonesia. (2018). Fatwa MUI Nomor 10 Tahun 2018 tentang Produk Makanan dan Minuman yang Mengandung Alkohol/Etanol. MUI.
Majelis Ulama Indonesia. (2018). Fatwa MUI tentang Alkohol. https://mui.or.id/produk/fatwa/
Malik bin Anas. (1994). Al-Mudawwanah. Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.
Muhyiddīn Abū Zakaria Yahya bin Syaraf al-Nawawī. (1997). Minhāj al-Thālibīn wa Umdah al-Muftīn. Dar al-Kutūb al-Ilmiyyah.
Nurjanah, S. (2020). Bioetanol sebagai energi alternatif dalam perspektif maqashid syariah. Jurnal Ekonomi Islam, 15(1), 78–95.
Republik Indonesia. (2018). Peraturan Presiden Nomor 66 Tahun 2018 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Presiden Nomor 61 Tahun 2015.Sekretariat Negara.
Zainuddin, A. (2024, Oktober 21). Wawancara pribadi.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Jurnal Al-Nadhair

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NoDerivatives 4.0 International License.